Sabtu, 12 September 2015

Perjalanan Hidup berharga sang motivator

Tiga puluh lima tahun yang silam, saya adalah seorang pemuda yang paling tidak bahagia di kota New York. Saya bekerja sebgai salesman mobil-truk. Saya tidak tahu soal mesin dan bagaimana sebuah truk dapat berjalan. Saya memang tidak mau tahu. Saya membenci pekerjaan saya ini. Membenci kamar kontrakan murah di West Fifty Sixth Street yang kutempati, sebuah kamar yang penuh kecoak dan berbau got busuk.
Saya masih ingat ketika pada suatu pagi ingin memakai dasi dan mengambilnya dari gantungan tembok, begitu tersentuh, puluhan kecoak berhamburan dari dalamnya ke segala penjuru angin. Ah, saya  juga benci makanan murah yang terpaksa saya makan dari warung-warung murahan dan kotor yang mungkin juga penuh kecoak.
Setiap malam saya kembali ke kamar kontrakanku dengan kepala pusing, pusing  oleh rasa ketidak puasan yang mengebu-gebu, rasa cemas, kesedihan dan pemberontakan jiwa. Ya, jiwa saya berontak, karena segala angan-angan yang pernah kuimpikan di sekolah dahulu telah berbah menjadi mimpi buruk yang menyeramkan.
Apa arti hidup ini? Inikah perjuangan yang aku cari dengan bersemangat itu? Hanya inikah arti hidup bagiku, melakukan pekerjaan yang tidak kusukai, hidup berdesakan dengan kecoak , makan makanan yang tidak kusukai dan tanpa harapan untuk masa depan?.....Saya merindukan waktu luang  untuk membaca, untuk menulis sebuah buku yang selalu saya angankan ketika masih duduk di bangku sekolah.
Saya tahu, saya tak akan menderita kerugian apa-apa bila meninggalkan pekerjaan yang saya benci. Saya tidak tertarik mengumpulkan uang banyak-banyak, akan tetapi saya tertarik untuk mendapat pengalaman hidup sebanyak-banyaknya.
Dalam waktu yang singkat saya telah mengambil keputusan. Titik keputusan yang dihadapi oleh kebanyakan anak-anak muda di saat mereka mulai beranjak menghadapi kehidupan. Keputusan yang saya buat ternyata mampu sama sekali merubah masa depan saya. Keputusan yang paling tidak telah membawa kebahagian untuk saya sampai saat ini.
Keputusan yang telah saya  buat adalah; Saya akan meninggalkan pekerjaan yang saya benci itu kemudian masuk sekolah pendidikan guru; State Teacher’s College di Warensburg selama empat tahun dan siap untuk mengajar. Saya akan membuka kursus untuk orang dewasa pada malam hari, untuk membiaya sekolah dan kehidupanku. Dengan demikian saya mempunyai banyak waktu luang untuk membaca, menyiapkan kuliah, menulis novel dan cerpen. Saya ingin  “Menulis Untuk Hidup dan Hidup untuk Menulis”
Mata pelajaran apakah yang saya ajarkan pada kursus malam hari? Cara berbicara di depan umum! Mengapa? Sebab kemampuan untuk berbicara di depan umum tersebut akan mampu menghapus rasa malu dan segan serta menumbuhkan rasa percaya diri sendiri, rasa keberanian dan jaminan untuk berhubungan dengan orang lain. Juga bukan rahasia lagi bahwa kepemimpinan biasanya tumbuh pada mereka yang dapat dan  berani menyatakan apa yang dipikirannya.
Saya melamar untuk mengajar sekolah sore pada Universitas Columbia dan juga Universitas New York, tetapi ditolek dengan alasan mereka dapat berjuang sendiri tanpa bantuan saya.
Saat itu memang saya merasa kecewa, akan tetapi saya bersyukur pada Tuhan bahwasanya saya ditolak, sebab kemudian saya berhasil mengajar di sekolah sore YMCA di mana saya berhasil pula menunjukkan hasil-hasil yang konkrit dari kemampuan saya.
Suatu tantangan baru harus saya hadapi! Siswa-siswi sekolah sore yang terdiri daripada orang dewasa itu datang ke sekolah bukan karena ingin mendapat dispensasi bayaran murah, akan tetapi mereka datang hanya untuk satu alasan saya; Mereka ingin mengatasi kesulitan yang sedang mereka hadapi!
Mereka ingin mampu berdiri tegap di atas kaki mereka sendiri dan mengucapkan kata-kata dengan lantang di depan rapat atau pertemuan bisnis tanpa dibebani rasa malu dan takut lagi. Seorang salesman ingin agar dapat langsung menghadapi langganannya tanpa harus berkeliling blok dulu untuk menghimpun keberaniannya. Mereka ingin membentuk sikap tenang dan kepercayaan diri. Mereka ingin mendapatkan uang lebih banyak untuk keluarganya.
Karena mereka membayar pelajaran mereka dengan cicilan  dan mereka akan berhenti mebayar apabila tidak merasakan hasilnya  dan karena saya dibayar bukan digaji , dari persentase keuntungan , saya harus berlaku praktis  untuk tetap dapat makan.
Mula-mula memang agak sulit, tetapi akhirnya saya menjadi begitu mantap dalam memberikan pelajaran. Saya harus mengerakkan siswa-siswa saya. Saya harus membantu mereka untuk menguasai kesulitan-kesulitan yang sedang mereka hadapi. Saya harus membuat setiap pelajaran begitu menarik dan mendatangkan ilham sehingga mereka mau melanjutkan pelajarannya.
Pekerjaan yang menyenangkan. Saya mencintainya. Saya takjub akan kecepatan para siswa dalam mengembangkan kepercayaan diri dan betapa cepatnya pula mereka berhasil dalam pekerjaan serta meningkatkan penghasilan. Sekolah tersebut melangkah maju lebih cepat dari apa yang saya harapkan.
Dalam tiga musim, YMCA yang mula-mula menolak untuk membayar saya lima dollar satu malam kini membayar  tiga puluh dollar semalam dengan dasar persentase.
Mula-mula hanya cara berbicara di depan umum, akan tetapi kemudian saya sadari bahwa siswa-siswi tersebut membutuhkan juga kemampuan untuk medapatkan kawan  dan hubungan masyarakat. Karena saya tidak berhasil mendapatkan buku tentang hubungan masyarakat, maka sayapun menulisnya sendiri. Dengan menyaring pengalaman-pengalaman yang dipunyai siswa akhirnya saya berhasil menulis sebauh buku berjudul: How to Win Friends and Influence People.
Ketika saya menulis sebuah textbook yang melulu saya peruntukan bagi sekolah saya sendiri dan kemudian menulis empat buah judul lagi, saya tidak pernah bermimpi bahwa buku-buku tersebut terjual dengan sangat luas dan laris. Mungkin sayalah satu-satunya pengarang yang terkejut dangan hasil karangannya sendiri!
Setelah tahun berjalan terus, akhirnya saya menyadari juga bahwa persoalan manusia yang terbesar saat ini adalah rasa cemas. Sebagain besar dari siswa saya adalah kaum insinyur, akuntan, pelaksana perusahaan, pengusaha, salesman, dan lain-lain profesi lagi, yang sebagian besar dari mereka mempunyai kesulitan-kesulitan yang mencemaskan.
Ada juga para wanita-wanita pengusaha dan ibu-ibu rumah tangga, dan mereka semua juga mempunyai kesulitan. Jelas, bahwa yang saya perlukan adalah sebuah textbook  mengenai bagaimana Menaklukan kecemasan. Kemudian saya berusaha menuliskannya.
Saya pergi ke sebuah perpustakaan terbesar di New york, di Fift Avenue and Forty-Second Street dan ternyata di sana saya hanya menemukan dua puluh buku mengenai rasa cemas. Adalah sangat mengherankan bahwa di sana pula saya menemukan delapan puluh Sembilan buku mengenai cacing! Bukan main, buku tentang cacing ternyata berjumlah Sembilan kali lebih banyak daripada buku tentang rasa cemas!
Mengherankan, bukan? Ya mengherankan, dan lebih mengherankan lagi, tidak ada sebuah perguruan tinggi pun di permukaan bumi ini mengajarkan mata kuliah tentang bagaimana menaklukkan rasa cemas, padahal kecemasan  adalah kesullitan terbesar yang dihadapi oleh umata manusia di alam ini. Tidak heran kalau David Seabury mengatakan dalam bukunya yang berjudul: How to Worry Succsessfully,: “Kita memasuki alam kedewasaan dengan sedikit sekali persiapan untuk menghadapi tekanan pengalaman, seperti mengharapkan belajar ballet dari buku tentang cacing.”
Hasilnya? Lebih separo penghuni rumah sakit adalah penderita gangguan syaraf dan tekanan emosi.
Saya mulai menyiapkan buku ini dengan meneliti setiap ucapan dan pendapat para ahli ilmu jiwa dan filsuf dari segala jaman  tentang rasa cemas. Saya juga membaca ratusan biografi, dari mulai Confucius sampai Churchill. Saya juga mengadakan wawancara dengan orang-orang  dari berbagai lapisan masyarakat dan berbagai profesi, mulai dari Jack Demsey si juara tinju kelas berat dunia, Omar Bradley dan Mark Clark yang Jenderal, Henry Ford yang raja mobil, Eleanor Roosevelt yang First Lady, dan masih banyak lagi. Tetapi itu hanyalah permulaan saja.
Saya juga melakukan sesuatu yang lebih jauh penting dari sekedar wawancra dan membaca. Saya bekerja tanpa mengenal lelah selama lima tahun dalam laboratorium untuk menaklukan cemas, sebuah laboratorium yang saya selenggarakan di dalam kelas sore bagi siswa-siswi dewasa. Sepanjang pengetahuan saya, laboratorium saya itu adalah satu-datunya yang ada di dunia  saat itu.
Apa yag kami lakukan? Para siswa mendapat beberapa petunjuk  dan aturan tentang cara menghentikan rasa cemas dan diharapkan untuk mempergunakannya di dalam kehidupannya. Kemudian ia diminta untuk menceritakan pengalamannya dalam menguasai rasa cemas serta teknik yang digunakannya.

Sebagai hasil percobaan tersebut, saya menjadi satu-satunya manusia dunia ini yang paling banyak mendengarkan orang lain berbicara tentang: “Bagaimana saya menaklukan rasa cemas,” dari surat-surat yang dirimkan melalui pos juga pembicara-pembicara yang memenangkan hadiah dari cabang-cabang kursus kami yang tersebar di 70 kota di seluruh Amerika Serikat dan Kanada saat itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar