Sabtu, 12 September 2015

Hiduplah Pada Hari Ini

HIDUPLAH PADA HARI INI


Pada musim semi tahun 1871, seorang lelaki muda menggambi sebuah buku dan membaca dua puluh satu kata yang akhirnya membekas sangat dalam di sanubarinya. Seorang mahasiswa kedokteran pada Montreal General Hopital sedang dihinggapi rasa emas justru setelah ia berhasil menyelesaikan ujian kahirnya dengan baik. Ia cemas, karena tak tahu apa yang akan dilakukannya, ke mana ia harus pergi, bagaimana membuka prakterk, bagaimana mencari nafkah.
Kedua puluh satu kata yang pernah dibaca mahasiswa kedokteran tersebut telah menjadikan dokter yang paling masyur di jamannya. Ia mengorganisir John Hopkins School of Medicine yang terkenal di dunia. Ia menjadi Regius Professor of Medicine do Oxfoord, suatu gelar kehormatan tertingi yang dapat disandang oleh seorang dokter di Inggris Raya. Ia diangkat Ksatria oleh Raja Inggris. Dan ketika ia meninggal dunia, dua jilid buku setebal 1.466 halaman yang membuat riwayat hidupnya diterbitkan.
Dia adalah Sir William Osler, dan inilah dua puluh satu kata yang dibacanya pada musim semi 1871 tersebut. Dua puluh satu kata dari Thomas Carlyle yang menolongnya menempuh kehidupan bebas dari perasaan cemas. “Kepentingan utama kita bukanlah untuk melihat apa yang terletak samar-samar di kejauhan, tetapi untuk mengerjakan apa yang jelas berada di tangan. “our main business is not to see what lies dimly at a distance, but to do what lies clearly at hand”.
Empat puluh dua tahun kemudian, pada suatu malam yang tenang di musim semi, di saat bunga-bunga tulip sedang mengembang di halaman kampus, orang itu, Sir William Osler, sedang berbicara dangan para Mahasiswa di Yale University.
Ia mengatakan pada para Mahasiswa tersebut, bahwa orang seperti dirinya, yang telah menjadi Professor pada empat buah Universitas dan telah berhasil menulis buku yang sangat terkenal, tentunya memiliki “Otak yang istimewa.’ Tetapi ia menyatakan bahwa hal tersebut sama sekali tidak benar. Ia mengatakan bahwa teman-teman dekatnya akan menyatakan bahwa otaknya hanyalah “Sedang-sedang saja”.
Lalu apa rahasia keberhasilannya? Ia mrenyatakan bahwa ia melakukan apa yang disebut “Hiduplah hari ini.” Apa artinya? Beberapa bulan sebelum berbicara di depan mahasiswa yale tersebut, ia telah melakukan pelayaran dengan menumpang kapael laut yang besar. Di sana ia melihat, ketika kapten kapal memijat sebuah tombol, maka terdengarlah dentang-dentang mesin-mesin  dan bebarapa bagian kapal segera saling menutup dan membentuk ruangan kedap air.
“Kini kalian semua,’ kata dokter oselr kepada para mahasiswa yale tersebut.” Setiap person adalah merupakan suatu organisasi yang lebih menakjubkan daripada kapal besar itu, danakan menempuh perjalan yang lebih jauh. Apa yang saya tekankan kepadamu adalah agar dapat mengontrol mesin dalam hidupmu agar menjadi ruangan yang kedap akan pengaruh hari esok dan waktu lampau, untuk menjamin keselamatan perjalanan hidupmu. Naiklah ke atas dan lihatlah roda-roda bergerak semestinya. Sentulah tombol dan dengarkan , setiap saat dalam hidupmu, pintu baja tertutup dari waktu lampau, kemarin yang sudah mati. Tekan tombol yang lain dan tutuplah dengan tirai logam, masa yang akan datang-esok yang belum lahir! Dan kamu akan selamat, selamat untuk hari ini!.....tutuplah masa lalu dan biarkan masa lalu menguburkan dirinya…..beban hari esok, ditambahkan pada kemarin yang semakin tajam. Tutuplah hari esok….hari esok  adalah hari ini……taka da hari esok. Pemborosan energi, tekanan mental, kecemasan akan selalu membuntuti orang yang terlalu rinsu akan masa depan…..tutup dan kuncilah, serta biasakan untuk  “Hidup hari ini.”
Apakah dokter Osler bermaksud untuk menyatakan bahwa kita tidak boleh berusaha untuk mempersiapkan hari depan? Bukan, bukan demikian! Ia ingin menyatakan bahwa kemungkinan terbaik untuk menyiapkan masa depan adalah dengan menekuni seluruh kepandaian kita yang ada, dengan seluruh semangat yang kita punya, untuk mengerjakan dengan hasil seluruh tanggunjawab hari ini. Hanya dengan cara itulah masa depan dapat dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.
Sir Willian Osler menghimbau para mahasiswa yale untuk memulai hidup hari ini dengan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa,: “Berilah kami rezeki pada hari ini.”
Ingatlah bahwa doa tersebut hanya menyebut; untuk hari ini. Doa tersebut tidak mengajarkan untuk mengeluh tentang nasi kemarin yang telah basi, dan tidak juga mengatakan; “Oh Tuhan, hawa sangat panas, mungkin kami akan menghadapi kemarau panjang dan kalau panen kami gagal, bagaimana kami dapat makan atau mungkin saya akan kehilangan pekerjaan. Oh Tuhan, bagaimana saya akan membeli beras?” Tidak! Doa tersebut hanya mengajarkan kepada kita untuk rezeki hari ini. Rezeki hari ini adalah satu-satunya rezeki yang dapat anda nikmati hari ini.
Beberapa tahun yang lalu, seorang ahli filsafat yang sangat miskin, berkelana di daerah di mana orang-orang sangat sulit mencari nafkah. Pada suatu hari berkerumunlah orang-orang di hadapannya di kaki sebuah bukit, dan ia memberikan ceramah yang mungkin paling berharga yang diucapkan oleh orang sepanjang waktu. Kata-kata yang diucapkannya adalah: “Jangan cemaskan hari esok, karena hari esok akan memikirkan dirinya sendiri.”


Kita memang harus berpikir akan masa depan, mempersiapkannya, dengan menabung, masuk asuransi jiwa, dan sebagainya. Untuk menghidupi masa depan. Benar! Tetapi cemas jangan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar